Menapaki langkah-langkah berduri
Menyusuri rawa lembah dan hutan
Berjalan di antara tebing curam
Semua dilalui demi perjuangan

Letih tubuh di dalam perjalanan
Saat hujan dan badai merasuki badan
Namun jiwa harus terus bertahan
Karena perjalanan masih panjang

Kami adalah tentara ALLOH
Siap melangkah menuju ke medan juang
Walau tertatih kaki ini berjalan
Jiwa perindu syahid tak akan tergoyahkan

Wahai tentara ALLOH bertahanlah
Jangan menangis walau jasadmu terluka
Sebelum engkau bergelar syuhada
Tetaplah bertahan dan bersiap siagalah
Tetaplah bertahan dan bersiap siagalah
Tetaplah bertahan dan bersiap siagalah

Gunung tinggi menjulang, samudra luas membentang, adalah lahan peneguhan
Hutan rimba, padang gersang, jadi ajang pembuktian
Hujan badai, terik panas kerontang, pasti kan hiasi perjalanan
Saat langkah telah diayunkan, pantang surut ke belakang, hingga sampai ke tujuan
Bertahanlah dan bersiap siagalah!

Read more ...




by RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF on Saturday, June 26, 2010 at 4:19pm

 



Sengaja kugoreskan tulisan ini, kado untuk teman-teman FB ku yang sedang ta’aruf, atau yang akan melakukan ta’aruf secara Islami. Juga bagi pasangan yang sudah pernah melakukan ta’aruf Islami,kado tulisan ini kupersembahkan sebagai kenang-kenangan yang terindah yang pernah dilalui dahulu. Kudoakan semoga Allah SWT selal

u memudahkan dan melancarkan ta’aruf Islami yang sedang atau akan berlangsung. Bagi pasangan yang sudah melakukan ta’aruf Islami, semoga langgeng pernikahannya, hingga kematianlah yang memisahkan kita dari pasangan kita. Aamiin



Bagi setiap aktivis da’wah, yang sudah memilih da’wah sebagai jalan hidupnya, tentunya harus memiliki kepribadian Islamiyyah yang berbeda dengan orang-orang yang belum tarbiyah tentunya. Salah satu akhlak (kepribadian Islami) yang harus dimiliki setiap ikhwan atau akhwat adalah ketika memilih menikah tanpa pacaran. Karena memang dalam Islam tidak ada konsep pacaran, dengan dalih apapun. Misalnya, ditemani orang tualah, ditemani kakak atau adiklah sehingga tidak berdua-duan. Semua sudah sangat jelas dalam Alqur’an surat Al Isra ayat 32 yang artinya ”Dan janganlah kamu mendekati zina ; (zina) itu sungguh perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”. Apalagi sudah menjadi fihtrah bagi setiap pria pasti memiliki rasa ketertarikan pada wanita begitu pula sebaliknya. Namun Islam memberikan panduan yang sangat jelas demi kebaikan ummatnya. Mampukah tiap diri kita menata semua, ya perasaan cinta, kasih sayang benar-benar sesuai dengan syari’ah? Dalam buku Manajemen Cinta karya Abdullah Nasih Ulwan, juga disebutkan, cinta juga harus dimanage dengan baik, terutama cinta pada Allah SWT, Rasulullah SAW, cinta terhadap orang-orang shalih dan beriman. Jadi tidak mengumbar cinta secara murahan atau bahkan melanggar syariat Allah SWT.



Lalu bagaimanakah kiat-kita ta’aruf Islami yang benar agar nantinya tercipta rumah tangga sakinah mawaddah warohmah,:



1.Melakukan Istikharoh dengan sekhusyu-khusyunya

Setelah ikhwan mendapatkan data dan foto, lakukanlah istikharoh dengan sebaik-baiknya, agar Allah SWT memberikan jawaban yang terbaik. Dalam melakukan istikharoh ini, jangan ada kecenderungan dulu pada calon yang diberikan kepada kita. Tapi ikhlaskanlah semua hasilnya pada Allah SWT. Luruskan niat kita, bahwa kita menikah memang ingin benar-benar membentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Seseorang biasanya mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang diniatkannya.



2.Menentukan Jadwal Pertemuan (ta’aruf Islami)

Setelah Ikhwan melakukan istikharoh dan adanya kemantapan hati, maka segerlah melaporkan pada Ustadz, lalu Ustadz pun memberikan data dan foto kepada Ustadzah (guru akhwat), dan memberikan data dan foto ikhwan tersebut kepada Akhwat. Biasanya akhwat yang memang sudah siap, Insya Allah setelah istikharoh juga segera melaporkan kepada Ustadzahnya. Lalu segeralah atur jadwal pertemuan ta’aruf tersebut. Bisa dilakukan di rumah Ustadzah akhwatnya. Memang idealnya kedua pembimbing juga hadir, sebagai tanda kasih sayang dan perhatian terhadap mutarabbi (murid-murid). Hendaknya jadwal pertemuan disesuaikan waktunya, agar semua bisa hadir, pilihlah hari Ahad, karena hari libur.



3.Gali pertanyaan sedalam-dalamnya

Setelah bertemu, hendaknya didampingi Ustadz dan Ustadzah, lalu saling bertanyalah sedalam-dalamnya, ya bisa mulai dari data pribadi, keluarga, hobi, penyakit yang diderita, visi dan misi tentang rumah tangga. Biasanya pada tahap ini, baik ikhwan maupun akhwat agak malu-malu dan grogi, maklum tidak mengenal sebelumnya. Tapi dengan berjalannya waktu, semua akan menjadi cair. Peran pembimbing juga sangat dibutuhkan untuk mencairkan suasana. Jadi tidak terlihat kaku dan terlalu serius. Dibutuhkan jiwa humoris, santai namun tetap serius.

Silakan baik ikhwan maupun akhwat saling bertanya sedalam-dalamnya, jangan sungkan-sungkan, pada tahap ini. Biasanya pertanyaan-pertanyaan pun akan mengalir.



4.Menentukan waktu ta’aruf dengan keluarga akhwat

Setelah melakukan ta’aruf dan menggali pertanyaan-pertanyaan sedalam-dalamnya, dan pihak ikhwan merasakan adanya kecocokan visi dan misi dengan sang akhwat, maka ikhwan pun segera memutuskan untuk melakukan ta’aruf ke rumah akhwat, untuk berkenalan dengan keluarga besarnya. Ini pun sudah diketahui oleh Ustadz maupun Ustadzah dari kedua belah pihak. Jadi memang semua harus selalu dikomunikasikan, agar nantinya hasilnya juga baik. Jangan berjalan sendiri. Sebaiknya ketika datang bersilaturahim ke rumah akhwat, Ustadz pun mendampingi ikhwan sebagai rasa sayang seorang guru terhadap muridnya. Tetapi jika memang Ustadz sangat sibuk dan ada da’wah yang tidak bisa ditinggalkan, bisa saja ikhwan didampingi oleh teman pengajian lainnya. Namun ingat,ikhwan jangan datang seorang diri, untuk menghindarkan fitnah dan untuk membedakan dengan orang lain yang terkenal di masyarakat dengan istilah ’ngapel’ (pacaran).

Hendaknya waktu ideal untuk silaturahim ke rumah akhwat pada sore hari, biasanya lebih santai. Tapi bisa saja diatur oleh kedua pihak, kapan waktu yang paling tepat untuk silaturahim tersebut.



5.Keluarga Ikhwan pun boleh mengundang silaturahim akhwat ke rumahnya

Dalam hal menikah tanpa pacaran, adalah wajar jika orang tua ikhwan ingin mengenal calon menantunya (akhwat). Maka sah-sah saja, jika orang tua ikhwan ingin berkenalan dengan akhwat (calon menantunya). Sebaiknya ketika datang ke rumah ikhwan, akhwat pun tidak sendirian, untuk menghindari terjadinya fitnah. Dalam hal ini bisa saja akhwat ditemani Ustadzahnya ataupun teman pengajiannya sebagai tanda perhatian dan kasih sayang pada mutarabbi.



6.Menentukan Waktu Khitbah

Setelah terjadinya silaturahim kedua belah pihak, dan sudah ada kecocokan visi dan misi dari ikhwan dan akhwat juga dengan keluarga besanya, maka jangalah berlama-lama. Segeralah tentukan kapan waktu untuk mengkhitbah akhwat. Jarak waktu antara ta’aruf dengan khitbah, sebaiknya tidak terlalu lama, karena takut menimbulkan fitnah.



7.Tentukan waktu dan tempat pernikahan

Pada prinsipnya semua hari dan bulan dalam Islam adalah baik. Jadi hindarkanlah mencari tanggal dan bulan baik, karena takut jatuh ke arah syirik. Lakukan pernikahan sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW, yaitu sederhana, mengundang anak yatim, memisahkan antara tamu pria dan wanita, pengantin wanita tidak bertabarruj (berdandan),makanan dan minuman juga tidak berlebihan.



Semoga dengan menjalankan kiat-kiat ta’aruf secara Islami di atas, Insya Allah akan terbentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah…yang menjadi dambaan setiap keluarga muslim baik di dunia maupun di akhirat.



Teriring doaku yang tulus kepada ikhwah dan akhwat fillah yang akan melangsungkan pernikahan kuucapkan ”Baarokallahu laka wa baaroka ’alaika wajama’a bainakumaa fii khoirin..



Dan bagi sahabat-sahabatku yang belum menikah, teriring doa yang tulus dari hatiku, semoga Allah SWT memberikan jodoh yang terbaik untuk semua baik di dunia maupun di akhirat..Aamiin ya Robbal ’alamiin

Read more ...

Teruntuk saudariku yang ku cinta karenaNya…

Ukhti, kalian adalah tulang rusuk yang hilang. Jika kalian dalam penantian, maka jadikan penantian itu jalan menuju keberkahan. Menanti bukan berarti berdiam diri, atau menunggu tanpa arti. Kalian adalah bidadari yang dicari. Sebelum pemilik tulang rusuk datang menjemput, isilah masa penantianmu dengan taqwa, sabar, do’a dan tawakkal. Meski kau boleh mengajukan proposal lebih dulu, tapi ana yakin, al-Haya’ yang menjadi perisai bagimu akan membuatmu urung untuk mengungkap perasaan. Cinta yang tak mampu kau ungkap. cinta yang hanya kau dekap dalam bungkam. Karena mungkin kau tak seberani Khadijah…

Ukhti fillah, izinkan ana berbagi. Dialog dari hati ke hati.

Saudariku, antunna mungkin jauh lebih paham tentang yang ingin ana sampaikan. Namun, tak ada salahnya jika kita sama-sama mereviewnya kembali. Setidaknya, menasehati diri ana pribadi.

Tips mengisi penantian dengan proses yang berkah untuk hasil yang berkah:

© Senantiasa dekatkan diri kepadaNya. Taqorrub ilallah! Karena Dialah Sang Pemilik hati, Yang Menguasai hati, dan Maha Tahu segala isi hati.

© Persiapkan bekal karena perjalanan itu jauh. Tholabul ‘ilmi never ending!

© Kerenkan diri dengan mempercantik lahir dan batinmu.

© Perbaiki diri karena InsyaAllah di seberang sana dia pun sedang sibuk memperbaiki dirinya. Yakinlah bahwa wanita yang baik hanya untuk lelaki yang baik pula.

© Ukhti, jaga hijabmu agar senantiasa terpelihara.

© Jaga izzahmu karena kau adalah calon bidadari syurga.

© Terakhir, jika ana boleh memberi saran, isilah penantianmu dengan ukiran tinta cintamu. Buatlah syair, puisi, atau surat cinta untuk sang belahan jiwa. Curhatkan segala perasaanmu selama dalam penantian, tentang cinta, dan rindu. Sekadar menanyakan kabar iman, keadaan, ada di mana, dan sedang apa dia sekarang. Saat ini kau tak tahu untuk siapa suratmu kau tujukan. Allah sedang merahasiakan. Tapi yakinlah, Sang Sutradara kehidupan sudah mempersiapkan yang terbaik untukmu. Berikanlah surat itu saat waktunya tiba. Biarlah waktu yang bicara, karena waktu tak pernah berdusta. insyaAllah, virus merah jambu yang mencoba merusak komputer hati antunna di masa penantian , akan terscan oleh anti virus imani dan syair cinta untuk yang dinanti. Dan InsyaAllah pula, ta’aruf kedua, ketiga , keempat dan ta’aruf-ta’aruf berikutnya di mahligai rumah tangga, akan semakin berbunga dengan adanya syair-syair indah perekat cinta..

Jangan buat penantianmu sia-sia. Bersegera, namun jangan tergesa. Sebelum ijab qobul keluar dari lisan “Sang Pangeran”, hati-hatilah menempatkan perasaan. Karena bisa jadi, cintamu salah kau alamatkan..

Bila yakin ‘tlah tiba, teguh di dalam jiwa

Kesabaran menjadi bunga

Sementara waktu berlalu, penantian tak berakhir sia-sia

Saat perjalanan adalah pencarian diri

Laksana Zulaikha jalani hari

Sabar menanti Yusuf sang tambatan hati

Di penantian mencari diri

Bermohonkan ampunan

Dipertemukan…(Epicentrum, menjemput bidadari)

Read more ...

Hai orang-orang yang beriman di wajibkan atas kamu berpuasa sebagai mana di wajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah:183)

 Waktu terus berjalan, bulan demi bulan kita lewati hingga sampai di sayyaidul syahr, bulan Ramadhan, siang dan malam yang silih bergantian mengantarkan kita pada pijakan sepuluh hari terakhir menjalankan ibadah di bulan penuh kemulyaan. Limpahan puji syukur selayaknya kita panjatkan kepada Tuhan semesta alam atas segala kemikmatan yang telah di berikan kepada kita, khususnya nikmat bertemu kembali dengan bulan Ramadhan.

 Pada tiap bulan Ramadhan ayat di atas merupakan ayat populer yang sering di bacakan  dan kita dengar. Baik di media cetak, elektronik ataupun perantara lainnya. Adapun esensi dari ayat tersebut ialah  menginformasikan kepada kita bahwa ketakwaan merupakan terminal utama disyari’atkannya berpuasa.

 Bulan Ramadhan merupakan madrasah yang di dalamnya kita dididik berpuasa satu bulan penuh menahan lapar dan dahaga serta hal-hal yang membatalkan puasa dan mengurangi nilai-nilai puasa kita. Puasa merupakan perisai diri kita agar kita tidak terjerumus pada hal-hal yang beretentangan dengan agama. Dengan begitu  puasa dapat berfungsi sebagai pembentuk pribadi muslim yang selalu merasa bahwa Allah swt selalu mengawasi gerak gerik setiap langkahnya.

Betapa banyak orang yang berpusa namun ia hanya memperoleh rasa lapar dan haus dari puasanya. Mereka hanya menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Sementara mereka mengabaikan nilai-nilai dari puasa itu sendiri. Mereka rusak puasa tersebut dengan melakukan hal-hal tercela seperti berkata dusta, menggunjing, namimah (memprovokasi atau adu domba) dan perbuatan tercela lainnya. Secara syar’i  puasa mereka sah. Namun puasa yang mereka lakukan tidak berbekas pada diri mereka selain rasa lapar dan dahaga yang mereka pertahankan.  Sabda Rasulullah saw:

 “Banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR.Ibnu Majah).

 Berbeda halnya dengan orang-orang yang berpuasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan.yang semata-mata mengharapkan keridhaan Allah swt. Maka puasa yang mereka lakukan akan mengantarkan mereka pada kemenangan yang hakiki, Kemenangan spiritual sebagai insan yang bertakwa yang selalu berusaha membawa dirinya menuju arah yang lebih baik dalam menggapai keridhaan Allah swt. Kemenangan emosional dengan menanamkan rasa empati terhadap sesama serta pendidikan untuk menahan hawa nafsu dan  mengedepankan kesabaran, Di sisi lain, kemenangan intelektual pun  tercipta setelah adanya keseimbangan antara spiritual dan emosional. Sehingga tercerminlah orang-orang yang berilmu dan beramal.dan menjadikan puasa sebagai perisai mereka dari siksa api neraka. Rasulullah saw bersabda:

 “Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah swt, maka akan di ampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR.Muttafaq ‘alaih).

 Sebagai madrasah, puasa Ramadhan juga mendidik kita untuk berlomba-lomba memperbanyak amal ibadah baik secara mahdhah (vertikal), yaitu hubungan hamba dengan Tuhannya yang berbentuk rutinitas sholat wajib, tadarus Al Quran dan menghidupkan malam dengan Qimaul lail (sholat tarawih, hajat maupun tahajjud). Ataupun secara ghoiru mahdhah (horizontal), yaitu hubungan antar sesama makhluk  dengan memperbanyak amal sosial seperti sedekah, interaksi positif antar sesama manusia, bekerjasama dalam suatu pekerjaan  dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan dalam bulan Ramadhan segala amal ibadah manusia dilipat gandakan pahalanya oleh Allah swt. Di lain itu, dengan adanya ketaatan akan perintah-Nya, hal ini tentunya bisa menjadi bukti akan ketakwaan seseorang Tuhannya.  

 Takwa ialah predikat yang akan diraih dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Timbulah pertanyaan, mengapa predikat takwa yang kita raih dalam melaksanakan ibadah ini?.

 Telah merupakan sunnatullah bahwa manusia di ilhami oleh dua kekuatan kebaikan (takwa) dan keburukan (fujur). Sebagaimana Allah telah berfirman Al quran:

Dan jiwa serta penyempurnaanya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS.Al syams:7-10).

Substansi ayat di atas menerangkan bahwa ketakwaan yang di pupuk secara terus menerus  akan meningkatkan kualitas seseorang sehingga ia  akan dapat menjaga kesucian jiwanya dari segala yang mengotorinya yang berupa keburukan (fujur). Di sinilah peranan takwa yang merupakan buah dari apa yang kita tanam selama tiga puluh hari menggapai kemenangan Ramadhan. Di samping itu konsekuensi dari ketakwaan ialah kemuliaan di sisi Allah swt sebagai mana dalam firman-Nya yang berbunyi:

 ”Inna akramakum ‘indaAllahi attqakum”

 “sesungguhnya orang-orang yang paling mulia di antara  kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa”. (QS. Al Hujurat:13).

 Bertolak dari sinilah bahwa ketakwaan kita harus selalu di pupuk dan di tingakatkan yang mana salah satunya ialah melalui puasa Ramadhan. Aktualisasi takwa akan dapat menjadikan motivator bagi kita dalam menghadapi segala problematika kehidupan sebagaimana firman Allah swt:

 “Wa man nyataqillaha yaj’alahu makhraja. Wa yar juquhu min haytsu la yah tasib wa man yattawakal ‘alallahi fa huwa hasbuh. Innallaha baalighu amrih qad jaala Allahu likulli syaiin qadra.”

"Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya DIA akan menjadikan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tak di sangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluaan)nya. Seseungguhnya Allah melaksanakan urusan yang di (kehendaki)Nya. Sesunggunya Allah telah mengadakan ketentuaan bagi segala sesuatau)" .(QS.At thalaq:2-3)

 Akhirnya dengan menjalankan ibadah Ramadhan, semoga kita semua termasuk orang-orang yang mendapat predikat takwa. Ketakwaan yang mampu mengantarkan kita memperoleh keridhaan-Nya. Ketakwaan yang mampu menancapkan posisi kita menjadi hamba yang mulia di sisi-Nya. Dan yang lebih penting, ketakwaan yang bisa kita pertahankan selama-lamanya.

 Sesungguhnya kita berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini merupakan tabungan yang akan mengantarkan kita menuju kebahagiaan yang hakiki.

 Wallahu a’lam bishawab.

http://www.ppimaroko.org/index.php?option=com_content&view=article&id=70:ramadhan-madrasah-pembentuk-pribadi-takwa&catid=58:sayyidul-ayyaam&Itemid=88

Read more ...

 Saat Mubarak, Lc.

E-mail Cetak PDF

bekal taqwa

Ma`aasyiral Mu`miniin Rahimakumullah….

Wasiat takwa senantiasa disampaikan oleh setiap khotib di awal khutbahnya, hal ini menunjukkan sekaligus menegaskan betapa pentingnya nilai taqwa di mata Allah swt, sehingga wasiat dengan tema taqwa ini menjadi salah satu rukun khutbah. Oleh karenanya orang-orang bertaqwa memiliki kedudukan dan keutamaan tersendiri, meraih derajat yang tinggi dihadapan Allah subhaahu Wa ta`alaa,

inilah beberapa keutamaan dan kedudukan mereka ;

Pertama : Yang bertaqwa adalah yang termulia di sisi Allah swt

Allah swt mendudukkan pribadi-pribadi bertaqwa meraih derajat kemuliaan yang tinggi di sisi-Nya, demikianlah firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat ke-13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.[QS. Al-Hujurat (49) : 13]

 

Demikianlah setelah Allah swt menyinggung kata yang mewakili jenis manusia, mereka yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, Allah swt menutup firman-Nya dengan ungkapan yang menunjukkan bahwa yang paling bertakwa dari merekalah yang paling mulia disisi-Nya tidak peduli apa warna kulit mereka, apa kebangsaan mereka, bahkan apa jenis kelamin mereka, yang bertaqwalah yang paling mulia.

Oleh karena itulah Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad; “Wahai sekalian manusia, sesunggunya Tuhan kalian adalah satu, ayahanda kalian adalah satu, ingatlah..! tidak ada keutamaan lebih bagi orang arab atas selain mereka, tidak pula bagi non arab atas orang-orang arab, tidak pula yang berkulit merah lebih utama dari yang berkulit hitam tidak pula yang berkulit hitam lebih utama dari yang merah, tak lain yang membuat lebih utama melainkan karena taqwa”. (HR. Imam Ahmad)

Maka bagi siapapun yang ingin meraih kemuliaan tertinggi disisi-Nya, hal itu tidak akan dicapai dengan sekedar harta, kemewahan, ataupun keturunan yang banyak, namun hanya dengan taqwa. Demikian ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah,

يا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ ؟   قَالَ  :   أَتْقَاهُمْ "

“Wahai Rasulullah, Siapakah manusia termulia ? maka Rasulullah menjawab :                                      “Yang paling bertaqwa” .         

(HR. Bukhori dalam kitab ahadits al-anbiya’ dan Muslim dalam kitan Al-Fadha’il)

Kedua : Orang-orang bertaqwa adalah para wali dan kekasih Allah swt

Hadirin yang dirahmati Allah… orang-orang yang dalam dirinya bersemayam ketaqwaan akan menjadi wali sekaligus kekasih allah swt, begitu tegas Allah menyatakan dalam firman-Nya bahwa Dia mencintai orang-orang bertaqwa;

بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

“(Bukankah demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa. [Qs. Ali Imran(3) : 76]

Innallaha yuhibbul muttaqin- sesunguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa, petikan firman Allah swt ini juga termaktub dalam Surah At-Taubah,surah ke-9 pada ayat ke-4 dan ayat ke-7 .

Karena mereka dicintai Allah maka mereka menjadi wali-wali Allah, merekalah para auliyaaullah, para wali bukanlah yang selalu memiliki kemampuan diatas rata-rata manusia biasa, memiliki kesaktian dengan ilmu kanoragannya dan berkemampuan supranatural…. Para wali Allah adalah orang-orang yang penug ketaqwaan kepada-Nya, tidak takut melainkan kepada Allah semata..

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ  الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.[QS. Yunus (10) : 62-63]

Ketiga : Meraih Ma`iyyatullah

Dengan ketakwaanya, pribadi bertaqwa akan dicintai Allah swt, dengan cinta-Nya, Allah akan senantiasa menganugerahkan mai`iyyah-Nya –kebersamaan-Nya, inilah kesertaan dan kebersamaan khusus yang Allah berikan kepada mereka oarang-orang yang bertaqwa,

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“dan bertaqwaah kepada Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa” [QS. Al-Baqarah(2) : 194]

Tentunya tidak ada kebersamaan yang lebih nikmat, tidak ada kesertaan yang lebih indah, tidak ada kedekatan yang lebih syahdu daripada ketika seorang hamba sedang merasa dekat dengan Tuhannya, merasa Allah swt sesantiasa menyertai dalam setiap langkahnya dalam menapaki jalan kehidupan ini. Maka dia akan berjalan mengarungi kehidupan ini; segala yang akan dia lalui dia lewati, semua itu dengan ketaqwaannya akan ia tempuh dengan ma`iyyatullah.

Keempat : Dimudahkan urusannya

Allah subhanahu wa ta`aala telah menegaskan dalam firman-Nya ;

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى  وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى  فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”.[QS. Al-Lail (92) : 5-7]

Orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang gemar berbagi, mereka mau mencurahkan sebagian harta yang mereka miliki untuk kepentingan fi sabilillah, sanggup memberi di saat lapang maupun sempit, di waktu mudah maupun sulit, semua itu karena mereka benar-benar yakin akan adanya balasan syurga, maka kelak Allah akan memberi  balasan yang baik dari apa yang telah mereka lakukan dan akan memyediakan jalan kemudahan bagi mereka dalam melakukan berbagi kebaikan .

satu hal yang  tidak boleh terlewat dari perhatian kita disaat mentadaburi ayat-ayat diatas adalah adanya kata “A`tha” yang berarti memberi, ini memberi isyarat kepada kita bahwa setiap kita diharapkan memiliki kontribusi, baik dengan harta yang Allah titipkan kepada kita, fikiran dan ide, atau pun jasa dan tenaga yang bisa kita berikan. Maka jika semua ini kita lakukan dengan didasari iman dan dibingkai dengan nilai ketaqwaan kepada Allah swt maka ada jaminan bahwa Dia akan memudahkan segala  urusan baik kita.

Kelima : Dilapangkan Rizkinya

Rizki adalah segala hal yang manfaat baiknya kembali kepada kita. Termasuk dalam kategori rizki adalah harta, kesehatan, ilmu, kesempatan dan peluang. Jadi rizki tidak terbatas pada harta.. Allah swt menjanjikann kepada mereka yang bertakwa untuk mendapatkan kemudahan jalan keluar termasuk di dalamnya jalan meraih rizki.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya “. [QS. Ath-Thalaq (85) : 2-3)

Demikian sebagian ayat 2 dan 3 dari surah Ath-Thalaq ini memberikan gambaran kepada kita bahwa Allah swt menjamin kepada orang yang bertaqwa akan mendapatkan  jalan keluar dari masalah yang sedang ia hadapi serta rezki yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan perlu kita renungkan bersama bahwa Allah swt menempatkan firman-Nya ini di sela-sela bahasan tentang  masalah perceraian, yang bisa jadi ketika seeorang tidak lagi mampu mempertahankan keutuhan rumah tangganya sehingga kemudian bercerai- walupun perceraian adalah sesuatu yang halal namun dibenci Allah- perceraian itu terjadi tetap dalam upaya menjaga nilai ketakwaan  kepada Allah, terkadang terbersit kekawatiran masalah rezki…. Dalam gambaran kondisi inilah kita mendapati seakan ayat ini menggedor kesadaran bahwa Allahlah yang Ar-Razzaq… dzat Pemberi Rizki, Dialah yang menjanjikan kemudahah kepada siapa yang mau benar-benar bertaqwa kepada-Nya.

Demikianlah khutbah yang singkat ini, semoga Allah swt melipat gandaklan kekuatan kita untuk berupaya menjadi  pribadi-pribadi bertaqwa yang akan mendapat beberapa keutamaan diatas, adapun beberapa keutaman lain dari ketaqwaan akan kita sampaikan pada kesempatan yang akan datang, semoga Allah swt memberi kita umur panjang yang terhiasi dengan amalan keshalehan. Amien

Ma`aasyiral Mu`miniin Rahimakumullah….

cahaya iman

Kalau ada orang yang paling mulia dialah yang paling bertaqwa kepada Allah swt, kalau ada yang paling beruntung dialah orang yang bertakwa, kalau ada yang manusia yang paling hati-hati menapaki jalan hidup yang dilaluinya dialah orang yang bertaqwa, kalau ada orang yang paling waspada menjaga keluarganya agar tidak terjerumus kedalam lumpur dosa dialah orang yang bertakwa. Demikianlah ada sederet karakter dan kriteria baik yang pantas disandang oleh manusia yang bertaqwa kepada Allah, Tuhan yang menciptakan semesta raya, tempat hidup segenap mahluk-mkhluk-Nya termasuk manusia, memang pantaslah kiranya kalau mereka meiliki keutamaan tersendiri. Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan bahasan kita tentang keutamaan dan kedudukan orang-orang bertakwa, setelah sebelumnya kita membahas lima keutamaan mereka, demikian berikutnya;

Keenam : Tergapainya Syurga dan Kenikmatan Akherat

Allah swt memberikan informasi kepada kita tentang orang-orang yang sukses dengan sebenar-benarnya sukses, mereka yang kesuksesanya terbawa sampai akherat, dan di antara mereka adalah pribadi bertakwa,  demikianlah firman Allah swt dalam Surah An-Nur ayat yang ke-52;

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”.                  [QS. An-Nur (24) : 52]

Orang yang benar-benar mendapat kemenangan adalah yang menang di kehidupan akherat, mereka para pemenang itu akan diberi kedudukan yang tinggi dan ditempatkan di tempat yang mulia, tempat yang sudah disediakan Allah swt untuk mereka, mereka yang takut kepada Allah swt disebabkan dosa-dosa yang pernah dikerjakannya serta  memelihara diri dari segala macam dosa-dosa yang mungkin terjadi.  Disaat kebanyakan orang melihat dunia adalah segala-galanya mereka memandang dunia hanyalah sarana, diwaktu umumnya orang ingin mengekalkan kekuasannya di dunia mereka melihat dunia ini sementara dan fana, itu semua karena adanya keimanan yang kuat dan menghujam sanpai dasar sanubarinya.

Dalam ayat yang lain Allah saw juga memberikan kabar gembira kepada yang bertaqwa,

وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. [QS. Ali Imran (3) : 133]

 

Ketujuh : Mendapat Pengajaran dari Allah swt

Hadirin yang dirahmati Allah… orang-orang yang bertaqwa kepada Allah swt akan senantiasa mendapatkan petunjuk dari Allah melalui Al-qur’an, karena memang Al-Qur’an adalah penunjuk bagi orang-orang bertaqwa-Hudal lil muttaqin- karena hanya orang-orang yang berupaya menjadi pribadi bertakwalah yang akan mampu menyerap petunjuk-petunjuk yang Allah ta`ala bentangkan dalam Al-Quranul Karim. Karena usaha yang dikerahkan untuk menjadi hamba bertakwa membuat mereka akan mendapatkan pengajaran dari Allah.;

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dan bertakwalah kepada Allah;  Allah akan mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” [Qs. Al-Baqarah(2) : 282]

Imam Al-Qurthubiy –rahimahullah- mengatakan dala tafsirnya, “Ini adalah janji dari Allah, bahwa seseorang yang bertaqwa, maka Allah akan mengajarnya, yakni menjadikan dalam hatinya cahaya untuk memahami sesuatu yang disampaikan kepadanya, Allah swt akan menjadikan dalam hatinya ada pembeda(furqan) yakni sesuatu yang akan membedakan mana yang hak dan mana yang bathil, diantara yang menjelaskan ini adalah firman Allah swt

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَت�

Read more ...